24 September 2011

Nasib Batik Tulis Tradisional, Makin Tak Menentu

Add caption
Dia adalah Sulastri (78), warga Desa Karangagung, Palang. Tidak seperti kebanyakan warga desa itu yang menggantungkan hidupnya pada laut, Mbah Lastri–demikian ia biasa disapa–masih setia dengan canting batiknya. Tubuh rentanya memang tak sekuat dulu. Dalam sebulan, belum tentu ia bisa menyelesaikan satu lembar kain batik. Apalagi minat pasar terhadap batik tulis tradisional semakin hari semakin menipis. ” Ya tergantung pesanan. Kalau ada pesanan ya mbatik, kalau ndak ada ya ndak bikin,” kata Mbah Lastri, saat kotatuban.com mengunjunginya, Sabtu (25/9).
Sebulan, menurut pengakuan Mbah Lastri, belum tentu ada pesanan datang. Rata-rata ia hanya mampu mengerjakan pesanan 3-4 lembar dalam 6 bulan. Selain pesanan yang memang cenderung sepi, Mbah Lastri juga sudah tidak mampu lagi berlama-lama duduk di kursi kecilnya, mengukir kain mori dengan malam (cairan untuk membantik, red).
Semua proses batik total ia kerjakan sendiri, dari memberi pola motif pada kain, mengukirnya satu-per satu dengan malam, hingga memberi warna. Untuk selembar kain batik karyanya, Mbah Lastri memasang harga Rp 250-400 ribu, tergantung motif yang dipilih pemesannya.
Cukup mahal memang. Tetapi jika dibanding betapa susahnya mengukir kain menjadi sebuah karya seni luar biasa itu, Rp 500 ribu/lembar pun kiranya layak. Diakuinya, harga yang lumayan mahal menurut ukuran kantong kebanyakan masyarakat, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sepinya permintaan pasar terhadap batik tulis tradisional.
Hanya kalangan tertentu yang hingga kini masih merasa perlu memiliki kain batik tulis tradisional. Pasar luar negri memang terbuka, tetapi bagi perajin seperti Mbah Lastri, jangankan luar negeri, Surabaya saja tidak pernah terlintas di pikirannya untuk menjadi sasaran pasar produk-produk adiluhung itu.
” Saya ndengar katanya ya dijual ke Bali. Tapi saya ndak mikir mau dijual ke mana. Asal ada pemesan ya saya bikinkan. Biasanya ya orang-orang dari “kulonan” (Jawa Tengah,red) yang memesan. Orang sini ya ndak ada,” cerita Mbah Lastri.
Di tempat Mbah Lastri bemukin, saat ini hanya tinggal beberapa orang yang masih terlihat membatik. Tak genap hitungan jari. Usia mereka rata-rata tak beda jauh dengan Mbah Lastri. Batik Karangagung sendiri kurang begitu dikenal di pasaran batik. Bahkan tidak banyak yang tahu jika di desa pesisir Tuban yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan ini terdapat perajin-perajin batik yang memiliki corak dan motif tersendiri.
” Pasar lebih mengenal Batik Gedog dibanding batik tulis,” kata Joko Wahono, SE, MM, salah seorang pengamat sosial-ekonomi di Tuban. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.
Menurut lulusan Cambridge University, Australia ini, faktor utama penyebab terjadinya marjinalisasi pasar batik tulis tradisional, adalah kebijakan Pemerintah setempat yang lebih berpihak pada batik gedok.
Memang pada perkembangan berikutnya batik gedog mampu eksis di pasar batik nasional, bahkan dunia. Tetapi itu harus dibayar mahal dengan “sekaratnya” batik tulis tradisional. ” Sekarang batik gedog bukan lagi dikerjakan masyarakat Kerek, tetapi juga diproduksi perajin-perajin sentra batik di luar kerek,” kata Joko.
Nilai ekonomis batik gedok yang lebih menjanjikan dibanding batik tulis tradisional, menjadi alasan logis para perajin batik tulis tradisional meninggalkan komuditinya, dan berpindah memproduksi batik gedok.
Data dari Seksi Perindustrian Bagian Perekonomian dan Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, jumlah perajin batik saat ini sebanyak 322 orang, tersebar di 6 Kecamatan. ” Yang terbanyak di Kerek,” kata Heri Purnomo, SE, Kepala Seksi Perindustrian.
Dari jumah perajin tersebut, tercatat Rp Rp 1.993.172.000 omzet pedagang batik di tahun 2009-2010. Dari kotatuban.com

Tidak ada komentar: